Artikel Kategori

Jadwal Dokter

Posted in statik on Apr 02, 2018

.

Hibah Alat Kesehatan dan Ambulance

Posted in Berita on Mar 28, 2018

Masih di pekan Hari Tuberkulosis Sedunia, RSPG mendapatkan Hibah alat kesehatan yaitu audiometri portable dari Kementerian Kesehatan RI serta Hibah Ambulance dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Semoga dengan adanya Hibah Alat Kesehatan dan Ambulance ini dapat meningkatkan pelayanan di RSPG. 

Senam Asma RSPG

Posted in Berita on Mar 28, 2018

 

 Masih dari rangkaian acara TB Day , RSPG juga mengadakan senam asma bersama yang diikuti oleh masyarakat dan pegawai RSPG.  Bertempat di Lapangan Olahraga RSPG pada Jumat pagi tanggal 23 Maret 2018.

Senam asma ini juga rutin dilakukan di Lapangan Olahraga RSPG setiap hari Jumat pagi untuk umum Senam asma ini bukan berarti diikuti hanya oleh pasien atau penderita asma saja, dapat diikuti oleh seluruh masyarakat dan tidak ada batasan usia (Lansia pun dapat mengikuti) karena baik untuk pernafasan dan kebuguran tubuh, dengan gerakan – gerakan yang mudah dilakukan.

Marilah kita jadikan olahraga sebagai salah satu gaya hidup untuk menciptakan kebugaran dan menjaga kesehatan.

 

Oleh : Intan Mutia

Dokumentasi : Tim Dokumentasi

Seminar Awam RSPG “Penyakit Tuberkulosis Tidak Mungkin Berlalu, Jika Kita Tidak Bertemu”

Posted in Berita on Mar 28, 2018

 

Pada tanggal 23 Maret 2018 RS Paru Dr M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) mengadakan  acara Seminar Awam RSPG dengan tema “ Penyakit Tuberkulosis tidak mungkin berlalu, jika kita tidak bertemu” bertempat di Gedung Wijaya Kusuma RSPG, Seminar dihadiri oleh Pejabat Lintas Sektor  (Tripika Kecamatan Cisarua), Tokoh masyarakat, Kader Kesehatan dan Masyarakat awam. 

Seminar ini dikemas secara informatif, edukatif dan komunikatif dengan harapan masyarakat dapat  bertujuan untuk Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat  serta aktif melaksanakan kesehatan Paru.. Berupa Talk Show bersama Tim Ahli :

1. Dr. Neni Sawitri, Sp.P (Penanggung jawab TB Resisten Obat  RSPG)

2. Dr.Ida Bagus Sila Wiweka,Sp.P (Direktur Medik dan Keperawatan RSPG)

3. Perwakilan pasien sembuh TB RO (Harapan dan kendala pasien TB-Resisten Obat)

Dipandu oleh Host :  Hengky Kurniawan. Acara berlangsung meriah dan para peserta sangat antusias terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar TB, dan bagaimana peserta yang berkomitmen untuk membagikan Ilmunya kepada lingkungan sekitar agar pengetahuan dan kesadaran tentang penyakit TB lebih meningkat. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati. Ditutup dengan Hiburan, Persembahan Angklung dan Door Prize serta Sesi photo bersama Hengky Kurniawan.

 

Oleh : Intan Mutia

Dokumentasi : Tim Dokumentasi

Peresmian Ruang Perawatan TB dan TB- Resisten Obat di RSPG

Posted in Berita on Mar 26, 2018

 

Peresmian Gedung Kacapiring sebagai Ruang Perawatan TB dan TB- Resisten Obat merupakan bagian dari rangkaian acara Seminar Ilmiah Pada tanggal 22 Maret 2018. Ruang Perawatan TB dan TB- Resisten Obat di RSPG diresmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia secara simbolik dengan menandatangani prasasti dan pengguntingan untaian bunga.

Setelah meresmikan, Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengunjungi ruang perawatan TB dan TB- Resisten Obat yang akan dibuka khusus untuk pasien TB- Resisten Obat di gedung Kacapiring RSPG.

Merupakan salah satu wujud komitmen RSPG untuk terus meningkatkan layanan untuk meningkatkan angka kesembuhan TB dan TB RO dan semoga RSPG menjadi pusat rujukan penatalaksanaan penyakit TB dan TB Resisten Obat secara komprehensif Indonesia di masa mendatang.

 

 Oleh : Intan Mutia

Dokumentasi : Tim Dokumentasi

Seminar Ilmiah RSPG ““Wanted: Leaders for a TB Free World “

Posted in Berita on Mar 26, 2018

 

Pada tanggal 22 Maret 2018 RS Paru Dr M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) mengadakan  acara Seminar Ilmiah RSPG dengan tema “Wanted: Leaders for a TB Free World “ bertempat di Gedung Wijaya Kusuma RSPG, Seminar dihadiri oleh Para pimpinan RS Paru, dan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat / BBKPM (Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Paru Indonesia / ARSABAPI), RSUD dan  RS Swasta di wilayah Kab dan Kota Bogor, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten dan Kota Bogor, Kepala Puskesmas Kabupaten dan Kota Bogor, Organisasi Pemerhati Pemberantasan TB ( PPTI, WHO, GF-ATM, dll).  Dengan Keynote Speaker : Menteri Kesehatan Republik Indonesia serta narasumber diantaranya:

  1. Prof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P (K)  (Guru Besar Ilmu Kesehatan Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

Konsep Perawatan Pasien TB Resisten Obat dengan Konsep Sanatorium, Manfaat dan Tantangannya.

  1. dr. Neni Sawitri Sp.P, FISR (Penanggung jawab TB Resisten Obat  RSP Dr.M.Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor)

Tantangan dalam tata laksana TB Resisten Obat  di Indonesia , situasi terkini di RSPG

  1. dr. Nina Herlina, Sp. A ( Dokter Spesialis  Anak di RSP Dr.M.Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor)

Masalah dan solusi pencegahan dan tatalaksana TB Resisten Obat pada Anak

  1. Ahmad Samsudin, S.Kep (Kepala Ruang Perawatan TB & TB RO RSPG)

Asuhan Keperawatan dan Perawatan Lanjutan Pasien TB /TB Resisten Obat RSPG)

Seminar ini bertujuan untuk, 

  1. Meningkatkan kualitas pelayanan unggulan di RSPG Cisarua sebagai Rumah Sakit Rujukan Paru Nasional;
  2. Meningkatkan kerjasama RSPG dengan stakeholderpelayanan kesehatan dalam penanggulangan TB Nasional.

Acara seminar ditutup dengan hiburan angklung dan pembagian doorprize. Besar harapan RSPG sebagai salah satu anggota ARSABAPI dapat menjadi pusat rujukan penatalaksanaan penyakit TB dan TB Resisten Obat secara komprehensif Indonesia di masa mendatang.

 

Oleh : Intan Mutia

Dokumentasi : Tim Dokumentasi

RSPG Mengadakan Seminar Ilmiah dan Seminar Awam TB

Posted in Berita on Mar 12, 2018

Dengan dilatarbelakangi Indonesia sebagai negara dengan kasus tuberkulosis (TB) kedua terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap penyakit TB serta risiko penularan penyakit semakin tinggi seiring dengan munculnya kasus TB resisten obat akibat jumlah kasus pasien TB putus obat meningkat. Dalam rangka peringatan hari Tuberkulosis Sedunia (TB Day), RS Paru Dr M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua bekerjasama dengan Asosiasi RS Paru dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) bermaksud mengadakan kegiatan seminar sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang TB. Seminar yang diadakan berupa seminar Ilmiah dengan tema “Wanted: leaders for a TB Free World “serta seminar awam dengan tema “Penyakit Tuberkulosis tidak mungkin berlalu jika kita tidak bertemu”. Peran Asosiasi RS Paru dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) sangat penting dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan Paru serta menjadi wadah kerjasama antar anggota dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya di bidang kesehatan paru dan respirasi. Melalui kerjasama yang baik, diharapkan RSPG sebagai salah satu anggota ARSABAPI dapat menjadi pusat rujukan penatalaksanaan penyakit TB dan TB Resisten Obat secara komprehensif Indonesia di masa mendatang.

Seminar ini bertujuan untuk, 

1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat  serta aktif melaksanakan kesehatan Paru;

2. Meningkatkan kualitas pelayanan unggulan di RSPG Cisarua sebagai Rumah Sakit Rujukan Paru Nasional;

3. Meningkatkan kerjasama RSPG dengan stakeholder pelayanan kesehatan dalam penanggulangan TB Nasional.

Jadwal Seminar :

Seminar Ilmiah dengan tema “Wanted: leaders for a TB Free World “ pada tanggal 22 Maret 2018 dengan Keynote Speaker : Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan narasumber diantaranya:

1. Dr. Ir. Arifin Panigoro (Tokoh masyarakat pemerhati pemberantasan Tuberkolosis)

2. Prof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P (K)  (Guru Besar Ilmu Kesehatan Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

3. dr. Neni Sawitri Sp.P, FISR (Penanggung jawab TB Resisten Obat  RSP Dr.M.Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor)

4. dr. Nina Herlina, Sp. A ( Dokter Spesialis  Anak di RSP Dr.M.Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor)

5. PETA/Terjang Cabang  Bogor (Harapan dan kendala pasien TB-Resisten Obat )

Seminar Awam dengan tema “Penyakit Tuberkulosis Tidak Mungkin Berlalu, Jika Kita Tidak Bertemu” pada tanggal 22 Maret 2018 dengan Host : hengky Kurniawan

Untuk info/pendaftaran seminar dapat menghubungi :

Bpk. Mus Mulyadi, SKM (HP/WA 085888585809)

Bpk. Iwan Ridwanullah, SKM ( HP/WA 081311016403)

 

Cara Cuci Tangan yang Baik dan Benar

Posted in Berita on Feb 22, 2018

Rajin mencuci tangan adalah salah satu cara terbaik agar kita tidak jatuh sakit dan terhindar dari penyakit menular. Mencuci tangan hanya membutuhkan air dan sabun, atau hand-sanitizer berbasis alkohol (jika tidak ada air). Ya, tindakan sederhana ini merupakan kebiasaan yang sangat mudah dilakukan dan sangat menyehatkan.

Mengapa Harus Cuci Tangan?

Seseorang penderita flu menutup hidungnya dengan tangan saat bersin, kemudian memagang pegangan di bus, saat Anda memegang pegangan tersebut, bakteri flu dapat segera berpindah ke tangan Anda dan apabila Anda memegang hidung atau mulut, kuman tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kita. Itulah gambaran betapa mudahnya kuman penyakit berpindah dari satu orang ke orang lain. Penyakit seperti diare, cacingan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), TBC bahkan penyakit yang mematikan seperti SARS, flu burung (H5N1) dan flu babi (H1N1) dapat dicegah dengan mencuci tangan secara benar. Sayangnya, banyak orang yang meremahkan kebiasaan sehat ini dan mengganggapnya tidak penting. Padahal dengan membiasakan mencuci tangan dengan baik, hidup Anda dan keluarga dapat lebih sehat.

 

Cara Mencuci Tangan yang Benar

Mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan di bawah air yang mengalir. Sedangkan langkah-langkah teknik mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut.

  • Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.
  • Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. Akan lebih baik bila sabun mengandung antiseptik.
  • Gosokkan kedua telapak tangan.
  • Gosokkan sampai ke ujung jari.
  • Telapak tangan tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya.
  • Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci.
  • Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan berputar. Lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.
  • Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan kedepan, kebelakang dan berputar. Lakukan sebaliknya.
  • Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri.
  • Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.
  • Keringkan tangan dengan menggunakan tissue dan bila menggunkan kran, tutup kran dengan tissue.

Mengeringkan dengan tissue lebih baik dibandingkan mengeringkan tangan menggunakan mesin pengering tangan yang umum ada di mal. Karena mesin pengering tangan yang dipakai secara umum menampung banyak bakteri yang dapat menularkan ke orang lain.

Kapan Saat Anda Mencuci Tangan?

Sepanjang waktu, kita selalu bersentuhan dengan benda dan orang lain. Itu membuat bakteri terakumulasi di tangan. Akibatnya adalah kita bisa terkena atau tertular penyakit ketika tangan menyentuh mata, hidung dan juga mulut. Walaupun tampaknya sulit untuk selalu menjaga tangan bebas kuman, kita bisa membatasi kemungkinan terinfeksi bakteri, virus, dan mikroba dengan cara mencuci tangan secara rutin.

Cuci tangan sebelum:

  • menyiapkan makan dan menyantap makanan
  • mengobati luka atau memberikan perawatan kepada orang sakit/terluka
  • memasang atau melepas lensa kontak

Cuci tangan setelah:

  • menggunakan toilet
  • menyiapkan makanan, khususnya setelah bersentuhan dengan daging mentah atau unggas
  • menyentuh binatang ataupun mainan binatang peliharaan
  • menggosok hidung, batuk, ataupun bersin di tangan
  • mengobati luka atau memberikan perawatan kepada orang sakit/terluka
  • membuang sampah, membersihak rumah, bersentuhan dengan peralatan kebun, atau menyentuh sesuatu yang terkontaminasi
  • bersalaman dengan orang lain

Selain itu, cuci tangan ketika tangan tampak kotor atau berbau.

 

Oleh : Kelompok Kerja Manajemen Komunikasi & Edukasi RSPG 

Survei Akreditasi SNARS ED-1 RSPG

Posted in Berita on Feb 21, 2018

Survei Akreditasi RS.Paru Dr.M.Goenawan Partowidigdo Cisarua – Bogor menggunakan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1 (SNARS edisi 1) meliputi :

SASARAN KESELAMATAN PASIEN
Sasaran 1 : Mengidentifikasi pasien dengan benar
Sasaran 2 : Meningkatkan komunikasi yang efektif
Sasaran 3 : Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai (High Alret Medications)
Sasaran 4 : Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar
Sasaran 5 : Mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Sasaran 6 : Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh

STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PADA PASIEN
      1. Akses ke Rumah Sakit dan Kontuinitas Pelayanan (ARK)
      2. Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
      3. Asesmen Pasien (AP)
      4. Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP)
      5. Pelayanan Anasthesi dan Bedah (PAB)
      6. Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO)
      7. Manajemen Komunikasi dan Edukasi (MKE)

STANDAR MANAJEMEN RUMAH SAKIT

  1. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
  2. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
  3. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
  4. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
  5. Kompetensi dan Kewenangan Staf (KKS)
  6. Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM)

PROGRAM NASIONAL
      1. Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi
      2. Menurunkan Angka Kesakitan HIV/AIDS
      3. Menurunkan Angka Kesakitan TB
      4. Pengendalian Resistensi Antimikroba (PRA)
      5. Pelayanan Geriatri

INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT

Kegiatan Survei ini diadakan dari tanggal 20 sampai dengan 23 Februari 2018 dengan adanya telusur dokumen dan telusur lapangan seperti pada setiap elemen yang tertuang didalam menggunakan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1 (SNARS edisi 1) :

Setiap elamen penilaian dilengkapi dengan (R) atau (D) atau (W) atau (O) atau (S) atau kombinasinya yang berarti sebagai berikut :

(R) = Regulasi yaitu dokumen pengaturan yang disusun oleh rumah sakit yang dapat berupa kebijakan, prosedur (SPO), pedoman, panduan, peratiran direktur, keputusan direktur dan atau program

(D) = Dokumen yaitu bukti proses kegiatan atau pelayanan yang dapat berbentuk berkas rekam medis, laporan dan atau notulen rapat dan atau hasil audit dan atau ijazah dan bukti dokumen pelaksanaan kegiatan lainnya.

(O) = Observasi, yaitu bukti kegiatan yang didapatkan berdasarkan hasil penglihatan/observasi yang dilakukan oleh surveior

(S) = Simulasi, peragaan kegiatan yang dilakukan oleh staf rumah sakit yang diminta oleh surveior

(W) = Wawancara, yaitu kegiatan tanya jawab yang dilakukan surveior yang ditujukan kepada pemilik/representasi pemilik, direktur rumah sakit, pimpinan rumah sakit, profesional pemberi asihan (PPA), staf klinis, staf non klinis, pasien, keluarga, tenaga kontrak dan lain- lain

 

Semoga RSPG dapat terus mempertahankan Predikat PARIPURNA sebagai wujud peningkatan kualitas layanan dan pelayanan terhadap masyarakat.

 

Oleh : Intan Mutia

Dokumentasi : Deni Nur

RSPG Mendapatkan Penghargaan atas Dukungan Program Deteksi Dini Kanker Serviks dan Kanker Payudara

Posted in Berita on Feb 15, 2018

RSPG mendapatkan penghargaan dari Darma Wanita Persatuan Kementerian Kesehatan RI atas dukungannya pada Bulan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Kanker Payudara Oktober 2017.

Salah satu Penyakit Tidak Menular adalah kanker. Kanker serviks merupakan kanker yang perlu diwaspadai oleh semua wanita. Kanker ini dapat menginfeksi wanita tanpa memandang usia maupun gaya hidup, sehingga anda perlu berhati hati. Di dunia secara internasional secara statistik telah diketahui 500.000 orang wanita didiagnosa telah menderita kanker serviks dan kurang lebih 270.000 wanita di antaranya mengalami kematian. Bahkan jika di rata rata, maka tiap satu jam terdapat satu orang wanita yang meninggal di dunia ini akibat terkena kanker serviks.

Di Indonesia sendiri telah terdapat 40 wanita yang telah mendapatkan diagnoae bahwa dirinya mengidap kanker serviks, dengan 20 wanita yang meninggal akibat kanker serviks. Angka ini bisa terus menanjak dalam kurun waktu yang tidak lama, sehingga setiap wanita harus mampu menghindari penularan virus HPV ini.

Alasan utama tingginya dan meningkatnya kedua kanker di negara berkembang termasuk di Indonesia adalah karena kurangnya program penapisan yang efektif dengan tujuan mendeteksi keadaan sebelum kanker maupun kanker pada stadium dini termasuk pengobatannya sebelum proses invasif yang lebih lanjut. Estimasi tahun 1985 hanya 5% perempuan di daerah berkembang yang mendapat pelayanan penapisan dibanding dengan 40% perempuan di negara maju. Kematian kasus kedua kanker di negara berkembang juga diperparah dengan rendahnya kemampuan dan aksesibilitas untuk pengobatan.

Beberapa hal yang menjadi kunci keberhasilan pengendalian kedua kanker ini adalah penanggulangan terpadu harus dilaksanakan sejak dari Puskesmas dan Rumah Sakit . Pengendalian meliputi penapisan (screening) yang diikuti dengan pengobatan yang adekuat. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, penapisan harus berfokus pada perempuan dengan golongan umur yang sudah ditargetkan.

Mari kita bersama Deteksi Dini Kanker Serviks dan Kanker Payudara sebagai wujud dukungan kita untuk menanggulangi penyakit kanker.

 

Oleh : Intan Mutia