Berita

Dimulai dari RSPG, Pendekatan Baru untuk Menurunkan Insidensi/Prevalensi dan Rekurensi Empyema di Indonesia

Posted in Berita on Mar 29, 2019

Alhamdulillah diberikan kepercayaan dan kehormatan sebagai ahli bedah pertama di Indonesia yg menggunakan PVS (Powered Vascular stapler) dalam operasinya. Kalo saya tidak bekerja di RSPG, belum tentu saya diberikan kesempatan ini.
Empyema merupakan salah satu kasus yg insidensi dan prevalensinya tinggi di Indonesia. Apalagi di kita, empyema ini sering disertai kondisi paru yg sudah busuk penuh nanah. Di Indonesia, jarang dilakukan pneumonektomi karena tingkat kesulitan operasinya yg tinggi. Morbiditas pasca operasinya juga lumayan. Inilah yg menyebabkan angka rekurensi empyema pasca-dekortikasi atau torakoplasti juga cukup besar.
Waktu di Thailand, heran juga saya kenapa banyak pneumonektomi utk kasus Empyema. Menurut saya saat itu, ini berlebihan. Tapi setelah sering menerima kasus rekurensi atau kasus baru dgn kondisi paru yg betul2 sudah tidak bisa diperbaiki lagi, juga didukung oleh teknologi yg kita miliki, akhirnya pneumonektomi menjadi tindakan rutin yg bisa kita lakukan, di saat center2 lain justru mengindari kasus dan tindakan serupa. Sampai2 Kolega2 saya banyak yg takjub dan heran bagaimana saya melakukannya.
Masih perlu evaluasi lebih lanjut mengenai mid dan long-termnya, tapi setidaknya kita sudah mulai langkah dan pendekatan baru utk menurunkan insidensi/prevalensi dan rekurensi empyema di Indonesia. Dan itu semua dimulai di RSPG tercinta...
 
Oleh : dr. Saladdin, Sp.BTKV